KH.M Faiz Abdurrazzaq: Penulis Mushaf Istiqlal


Khattat tanah air yang satu ini lahir di Tanggerang 11 November 1938, Provinsi Banten, mewarisi ilmu kaligrafinya dari ayahandanya.Beliau sudah menekuni kaligrafi sejak dini kepada ayahnya.

Pada umur 15 tahun Muhamad Faiz membantu ayahnya menulis kitab kitab berbahasa arab, tulisan arab, melayu, sunda juga madura ( menggunakan arab pegon).

Sejak kecil beliau tidak pernah di ajarkan ayahnya huruf huruf abjad, dia hanya di ajarkan huruf hijaiyyah Alif, ba, ta dan seterusnya, yang di mulai dari bangun tidur setelah sholat subuh langsung mengaji kepada ayahnya.

Ayahnya yang termasuk seorang tokoh agama tidak segan segan dalam mendidik anaknya, terkadang Muhammad Faiz harus mendapatkan hukuman dari ayahnya ketika tidak mampu menggafal suatu surat dalam Al-Quran ataupun yang lainya.

Namun beliau tidah pernah menyesal dengan hal tersebut, karena beliau yakin dari semua itu menghasilkan manfaat yang luar biasa untuk dirinya kelak, tutur beliau.

Karya terbesar beliau adalah Mushaf Istiqlal yang tersebar ke berbagai belahan dunia, banyak orang juga yang berpendapat bahwa Mushaf Istiqlal termasuk kategori terbaik dunia.

Bahkan begitu populernya Mushaf tersebut, Bill Clinton Presiden Amerika Ke 42 berhasrat untuk menyaksikan Mushaf tersebut secara langsung, Raja Arab juga sampai mengundang beliau ke kerajaanya dengan jamuan khusus.

Bakat menulis beliau terlihat sejak umur 14 tahun waktu duduk di bangku SMP, sebab waktu masih MI tulisan Muhammad Faiz masih terbilang buruk karena sering mendapatkan ejeken dari teman temanya.

Tahun 1992 keluarga beliau pindak ke Malang Jawa Timur, Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai negri rela melepaskan kepegawaianya, lebih memilih sebagai penulis kahat di Penerbit Nabhan Surabaya.

Berawal dari banyaknya permintaan untuk menulis khat dari penerbit tersebut, ayahnya meminta bantuan kepada Muhmmad Faiz untuk memebantu beliau, dari situlah nama Muhammad Fais mulai di kenal.

Tahun 1958 beliau masuk di Pondok Pesantren Gontor, berkat kecerdasanya, nyantri yang seharusnya di tempuh 6 tahun, beliau berhasil lulus dalam kurun waktu 2 tahun 8 bulan dan kemudian di beri amanah untuk menjadi guru khat di podok.

Semua itu berawal dari kebiasaan beliau yang sering membrodoli Al-Quran yang sudah rusak, untuk di benarkan tulisanya, seperti tulisan yang sudah mulai hilang di perjelas lagi, kemudian temanya melaporkan kejadian tersebut kepada pengasuhnya K.H.Imam Zarkasy.

Akan tetapi bukan omelan yang ia dapatakan, malah di angkat menjadi abdi ndalem, atau mengurusi keperluan pengasuh (santri khusus), tidak lagi makan tahu, tempe dan terong 3T, karena di angkat jadi guru khat.

Usai lulusnya dari pesantren beliau berhasil menulis berupa buku peljaran Al-Fiqhul Wadhlih karangan Prof. Dr. Mahmud Yunus, dan mengajar di MAN Bangil sebagai guru Khat Bahasa Arab dan Tarikh.

Faiz memutuskan untuk menikah pada tahun 1973 dan di karuniai 3 anak, kebutuhan keluarga yang semakin meningkat bisa tercukupi saat mendapatkana Beasiswa di Univesitas King Abdul Aziz, jedah, di Fakultas Tarbiyyah.

Waktu itu gajinya bisa mencapai lima ribu real, yang beliau dapat dari pekerjaanya sebagai Khattat atau Desainer di Al-Farouqi Advertising, Al-Itimad Print Press, Jedah, dan gaji itu jauh dari yang ia dapat saat mengajar dulu.

Kesempatanya tinggal di sana tidak di sia siakan sambil mengasah kemampuan kaligrafinya dengan belajar langsung pada master masternya seperti, Sayyid Ibrahim di Mesir, sampai akhirnya beliau mendapatkan ijazah dari beliau dan pernah memperoleh Juara II Lomba Khat Internasional di Jedah, Saudi Arabia tahun 1979.

Sepulangnya dari Saudi Arabia beliau mendapat ujian berupa serangan serangan penyakit pembuluh darah selama delapan bulan, dan semua barang barangnya ludes terjual untuk biaya pengobatan.

Dari kejadian tersebut Muhammad Faiz berfikir untuk kembali mengajar untuk mengamalkan ilmunya yang ia peroleh di Pesatren sebagai Penyuluh utama Khat  di kantor wilayah Kementrian Agama Jawa Timur.

Muhammad Faiz akhirnya di panggil oleh Darul Fikr, Beirut, Perwakilan dari Jakarta sebagai penerjemah dan korektor, pada tahun 1984. Faiz juga di angkat sebagai guru atau dosen Bahasa Arab di beberapa pesantren di Jawa Timur atas nama Kedutaan Besar Saudi Arabia di Indonesia.

Saat ayahnya sudah udzur dan sakit sakitan Muhammad Faiz di minta untuk meneruskan karya ayahnya berupa Mushaf Istiqlal, Walapun beliau sempat menolak, amanah itupun di kerjakan Faiz sebagai desainer kaligrai dan di bantu 5 orang Khattat.

Sedangkan untuk ornamen kaligrafinya di bantu oleh seniman grafis dari ITB di bawah kordinasi Prof. Dr. Ade Firus dan Drs. A Haldani.

Dengan usaha dan ketekunan yang tinggi Mushaf tersebut selesai dengan begitu indahnya, sampai Presiden Amerika ke 42, Bill Clinton berkunjung ke Indonesia untuk menyaksikan secara langsung dan bertemu dengan Muhammad Faiz dengan di dampingi Mentri Agama RI, Tarmizi Taher.

Setelah selesai itu beliau menulis Mushaf Sundawi, dan melaksanakan proyek kaligrafi besar di masjid masjid tanah air, seperti Masjid Nasional Istiqlal Jakarta, Masjid At-Taqwa Sirit Bali Utara, Masjid Agung Bengkulu, Masjid Nasiolan Al-Akbar Surabaya, dan lain sebagianya.

Pada tahun berikutnya Muhammad Faiz menjdi satu satunya Khattat dari Indonesia yang di undang ke Saudi Arabia untuk mendapat penghargaan bersama dengan Khattat ternama seluruh dunia. Saat ini beliau masih aktif menjadi hakim MTQ Jawa Timur dan Nasional.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama