Keterbatasan Bukanlah Hambatan, Fatoni Juarai Cabang Tilawah Golongan Cacat Netra MTQ Nasional


     


Kekurangan penglihatan sejak lahir tidak menghalangi Ahmad Fatoni untuk belajar Al- Qur'an. keterbatasan fisiknya bukan hambatan bagi dirinya untuk mencapai cita-cita luhur menjadi Qari dan penghafal Al-Qur'an. Usahanya pun berhasil kini menjadi qari dan hafal Al-Qur’an 30 juz sejak tahun 2014. Di MTQ Nasional XXIX Tahun 2022 di Kalimantan Selatan namanya keluar sebagai peraih medali emas Cabang Tilawah Golongan Cacat Netra.


Pria kelahiran Lumajang pada 8 Maret 1986 ini sejak kecil memang memiliki suara bagus. Letak rumahnya yang bersebelahan langsung dengan Masjid Asasut Taqwa, Desa Jatisari, Kecamatan Tempeh, menjadi anugerah tersendiri baginya. Karena dengan begitu dia termotivasi untuk menjadi qari karena sering mendengar MP3 qari yang setiap hari diputar di masjid tersebut.


Ia pun menekuni dunia tilawah sejak kecil hingga berhasil beberapa kali juara di Musabaqah Tilawatul Qur'an (MTQ) Cabang Tunanetra (Canet) tingkat provinsi hingga nasional. Pada tahun 2002, Fatoni yang dipanggil untuk mengikuti seleksi Kafilah Jawa Tumur di MTQ Nasional mendapat inpirasi untuk menghafal Al-Qur'an.


"Saat itu di Surabaya ada teman tunanetra Qari sekaligus hafal Al-Qur'an. Saya termotivasi dari dia. Maka pada tahun 2003 saya memutuskan berangkat mondok Tahfidz di Jember, tapi di sana cuma tiga tahun dan alhamdulillah dapat 12 juz. Setelah itu pindah pondok di Condro Pasirian dan alhamdulillah bisa sampai selesai 30 Juz," cerita Fatoni (19/10/22).


Fatoni mengatakan, tantangan terbesar bagi tunanetra saat menghafal Al-Qur’an adalah kesabaran. Karena bagimana pun caranya dirinya harus usaha ekstra menggunakan indera pendengaran untuk mendengarkan ayat per ayat, baik dari kaset pita yang digunakan saatu itu atau dari teman yang membacakan ayat yang hendak dihafalkan.


"Terkadang huruf tha' terdengarnya qaf, jadi harus beberapa kali saya ulang-ulang dari tape kecil yang selalu saya bawa ke mana-mana. Kadang, ya, teman-teman saya minta bacakan, baru setelah itu disetorkan ke kiai," ujar ayah satu anak ini.


Prinsip hidup yang ditanamkan Fatoni pada dirinya adalah setiap manusia pasti diberi kekurangan dan kelebihan, sehingga dengan memasrahkan semuanya kepada Allah dan terus meyalurkan bakatnya kepada hal-hal positif, kesuksesan menurutnya pasti akan diraih. 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama